Mental Pengusaha (Renungan Jelang 2009)

Mental Pengusaha (Renungan Jelang 2009)

Bukan maksud saya menggurui, karena saya juga sedang terus berusaha menempa mental pengusaha saya. Tulisan ini hanya meneruskan postingan sebelumnya, tentang mental pengusaha atau karyawan. Sebenarnya perbedaan yang mencolok adalah mental pengusaha adalah berani tertantang, sedangkan mental karyawan adalah bermain save. Tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum saya pada teman2 yang sekarang berprofesi karyawan, pegawai, executif dan profesi lainnya. Tapi, karena saya hanya membahas mental pengusaha, sementara, mental karyawan di’hold’ dulu…Sebentar, saya sruput kopi saya dulu. Nah, lega…enak ya kopi bikinan istri..(hmm…)

Setelah kurang lebih 5 tahun berwirausaha saya menemukan beberapa point penting soal mental seorang pengusaha. Mungkin agak nyleneh, tapi, orisinil..ini hasil renungan saya. Sekalian bisa menjadi bahan renungan juga menjelang tahun baru 2009 dan tahun baru Hijriyah 1430.

Ciri Mental pengusaha, berdasarkan pengalaman berwirausaha saya selama ini :
  1. Berani menantang dan selalu tertantang.
Seorang pengusaha harus mempunyai mental ini. Menjadi seorang pengusaha atau wirausahawan musti dan kudu berani menantang segala kondisi. ia harus menantang keadaan ini. Menjawab sebuah penilaian dari sudut pandang berbeda. Contohnya, bila seorang membuka toko kelontong di sebuah perumahan yang sepi, padahal disana belum ada toko kelontong, maka itulah tantangan itu! Posisi tidak menguntungkan, tapi bgmn dengan aspek lainnya?

2. Mental cari duit.
Kalo ini tidak perlu penjelasan. Kerja apapun pasti cari duit. Lha kok dibahas, mas…?Hhehe..sabar, gini..Tidak semuanya orang berwiraswasta cari duit. Mereka hanya cari untung. Apa ada bedanya?Ada dong. Mencari keuntungan dengan membabi buta tentu akan berakibat fatal. Salah-salah, akan menggunakan segala cara. Yang penting untung. Ini mental yang harus saya jauhi. Saya cukup berprinsip cari duit. Masalah untung nomor 2. Kok bisa? Karena ada aspek lain yang saya utamakan, yaitu bermanfaat bagi kedua belah pihak. Bagi saya sebagai pengusaha, juga bermanfaat bagi konsumen.

3. Mental Kreatif dan Inovatif.
Sebagai pengusaha harusnya kita memiliki mental kreatif dan inovatif. Kreatif artinya memanfaat situasi dan kondisi yang ada sehingga lebih berdaya dan bernilai. Kembali lagi jangan melulu berpikir soal untung rugi. Pikirkan aspek manfaat. Maksudnya, manfaatkan saja apa yang ada. Pada usaha warnet, pasti ada peluang yang lain. Sediakan saja snack, softdrink atau kopi hangat untuk memenuhi kebutuhan pribadi para pelanggan. Atau seperti yang saya lakukan, sediakan layanan pulsa hp elektrik. Cari saja distributor pulsa all operator, transaksi via YM dan layanan 24 jam. Dengan begitu kita pny side earning, pendapatan sampingan. Dan bukan saja pelanggan warnet yang belanja, masyarakat sekitar tentu akan tersedot ke tempat kita.

4. Aspek Edukatif
Layani konsumen dari aspek edukatif, artinya mendidik, membantu dan membimbing. Ngenet, broswing, chatting, maen friendster, download, mungkin adalah hal yang biasa mereka lakukan. Tapi ngeblog, atau nonton TV online atau ikut kompetisi manager sepak bola di liga inggris secara online, hingga bisnis internet yang gampang2 saja…tentu tidak semua orang mengerti. Tentu kita akan memiliki nilai lebih dan kita tidak akan pernah merasa gagal serta rugi dalam berwirausaha. Karena jika ini dilakukan secara ikhlas kita akan memetik beberapa keuntungan. Satu keuntungan rohani, kita puas, dua..kita mendapatkan pahala, dan tentu saja jika konsumen bisa blogging, maka mereka akan menghabiskan waktu lebih lama dan frekuensi yang meningkat dalam berinternet. Setuju.?

5. Mental baja, (bahasa jawanya rai gedhek atau rai cor-coran, maksudnya muka dinding kayu, atau wajah besi beton).
Artinya jangan malu kalau usaha kita sepi atau malah bangkrut. Santai saja men…cool…rasakan saja suasana demikian. Pernah warnet saya sepi banget. Saya biarkan saja. Saya tetap buka, menunggu pelanggan datang. Akhirnya sampai jamnya harus tutup, tetap tidak ada yang datang. Ya sudah…berarti memang tidak ada rejeki waktu itu. Sudah itu, ya tutup saja warnetnya, lalu istirahat ama anak istri liat tv dan maen gim…Rasakan…

6. Yakin bahwa Allah, adalah sang pengatur rizki...manusia hanya wajib berusaha. Kata Aagym, rejeki itu sudah ditebar, tinggal kita mau mencarinya atau tidak. Tetapi dalam hati saya berdoa, Ya Allah, bukakan pintu rejekiMu padaku….saya lakukan berulang2 seperti itu. Dan benar, alhamdulillah, besok harinya warnet saya ramai bahkan teramai dari hari2 sebelumnya.

Kalau sudah begini, masih ada neh, yang mau jadi pengusaha? Hehe….

7 Replies to “Mental Pengusaha (Renungan Jelang 2009)”

  1. Pada hakikatnya kita didunia harus selalu berusaha kan…..
    jadi belajar jadi pengusaha tuh bisa seumur hidup… tapi tidak semua orang yang punya mental pengusaha…. itulah makanya kusebut pengusaha itu sebagai profesi yang menantang

    Selamat Tahun Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *